ESSAY TENTANG KEEFEKTIFAN KULIAH TATAP MUKA DI MASA PANDEMI
Metode Pembelajaran Kuliah Tatap Muka yang Efektif
Kebijakan kuliah tatap muka di masa pandemi mulai marak dibicarakan. Kemendikbud menghimbau untuk daerah yang berada pada PPKM level 1-3 dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka secara terbatas yaitu 50% dari total mahasiswa yang ada, tetapi dengan mematuhi berbagai protokol kesehatan yang berlaku.
Salah satu Kebijakan kuliah tatap muka yang efektif di masa pandemi covid-19 yakni pembelajaran campuran (hybrid learning). Hybrid learning merupakan pembelajaran yang menggunakan sistem daring yang dikombinasikan dengan pertemuan tatap muka untuk beberapa jam. pembelajaran Hybrid Learning pembelajaran yang bersifat metodologi yang menggabungkan beberapa metode pembelajaran yaitu :
1. Traditional Classes (TC) adalah pembelajaran dilakukan secara tradisional/ekspositori.
2. Real Workshop (RW) adalah pembelajaran dengan komputer sebagai alat bantu.
3. Virtual Workshop (VW) adalah pembelajaran dengan internet.
Pembelajaran Hybrid Learning bertujuan untuk memberikan pengalaman yang paling efektif dan efisien dengan cara menggabungkan pertemuan konvensional atau tatap muka di kelas dengan pengelolaan lingkungan e- Learning secara integrasi yaitu Traditional Classes-Real Workshop-Virtual Workshop (TC-RW-VW). Hybrid learning dilakukan guna meminimalisir akibat dari psikososial peserta didik. Bentuk pembelajarannya adalah kombinasi antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring.
Pembelajaran dengan tatap muka dilakukan secara rotasi menggunakan jumlah mahasiswa 50 persen. Misalnya terdapat 50 siswa maka 25 mahasiswa mengikuti pertemuan tatap muka dan sisanya dan sisasanya mengikuti kelas pembelajaran daring secara bergantian. Dengan tujuan memberi kesempatan bagi mahasiswa yang kesulitan untuk pendidikan jarak jauh. Selain itu, hal ini menajdikan pembelajaran lebih efektif serta tidak terlalu banyak kerumunan yang mengakibatkan mudahnya perederan Virus covid-19. Walaupun sudah mematuhi protokol kesehatan namun jika tetap berdesak desakan dan tidak memberi jarak satu sama lain tidak menurunkan kemungkinan untuk terpapar virus covid -19.
Dalam hal ini, diperlukan sosialisasi face to face dengan menggunakan sistem hybrid learning akan memudahkan pemahaman mahasiswa dalam kegiatan belajar.
Selain itu memudahkan anak dengan berkebutuhan khusus untuk tetap belajar menggunakan peralatan, permainan, perkakas, dan barang lainnya yang tidak dapat dibeli di rumah atau di bawa dari kampus ke rumah setiap mahasiswa yang membutuhkannya. Disisi lain, orang tua dipersilahkan memfasilitasi pembelajaran tatap muka, pembalajaran daring atau luring. Lalu untuk para peserta didik yang kesulitan mengakses internet dapat datang dua sampai tiga kali seminggu ke kampus. Waktunya harus disesuaikan dengan konvesi bersama serta harus mengutamakan keamanan serta kesehatan dari peserta didik maupun tenaga pendidik. Hybrid Learning meningkatkan hasil belajar lebih besar daripada metode pembelajaran konvensional. Hybrid learning menghasilkan perasaan berkomunitas lebih kuat antar mahasiswa.
Dampak Pelaksanaan Kuliah Tatap Muka
Dari pembelajaran kuliah tatap muka terdapat beberapa dampak dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari adanya peraturan tersebut yakni :
1. Pelajar akan merasa lebih aman ketika berada dalam ruangan karena sudah mendapatkan hasil negatif dari swab test
2. Kebijakan Kuliah tatap muka memudahkan pelajar untuk memahami materi yang diberikan
3. Pembelajaran tatap muka memberikan pengaruh terhadap efektivitas penyampaian materi oleh pengajar yang berupa penjelasan materi dan latihan, pembelajaran dihubungkan ke implementasi dunia kerja, kerap soal yang diberikan dikemas sebuah permainan interaktif, ataupun penjelasan tidak hanya terpaku pada bahan ajar presentasi pengajar. Beberapa dari langkah ini tidak sepenuhnya didapatkan mahasiswa/i ketika perkuliahan daring. Sebagian pengajar hanya memberikan materi semata tanpa penjelasan seperti arti istilah daring yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
4. Mengantisipasi hilangnya kesempatan atau minat belajar (learning loss) bagi mahasiswa.
Kemudian, pembelajaran tatap muka secara tidak langsung juga berdampak negatif, seperti :
1. Harga swab test yang tergolong tinggi yang berdampak tidak terjangkaunya seluruh pihak untuk dapat melakukan swab. Hal ini dikarenakan faktor ekonomi.
2. Banyak pekerja yang penghasilannya berkurang ataupun terkena PHK dari tempat kerja dikarenakan adanya pandemi Covid-19.
3. Ketika perkuliahan tatap muka diperlukan berbagai hal, mulai dari segi fisik, psikis,
ataupun materi. Terlebih terkait aspek materi yangmana diperlukan biaya khusus seperti diperlukannya tempat tinggal bagi pelajar yang merantau, uang bulanan, biaya makan, biaya ongkos kendaraan dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan meningkatnya pengeluaran bagi perekonomian keluarga, terutama bagi yang terdampak pandemi, seperti terkena PHK.
4. Pembelajaran di masa pandemi tidak menjamin keamanan tidak terpapar, walaupun telah melaksanakan vaksi. Hal ini menjadi beresiko karena siswa/mahasiswa berkumpul di tempat yang tertutup serta dalam waktu yang lama sehingga membahayakan kesehatan yang akan berdampak juga pada ekonomi keluarga.
Strategi Perekonomian Keluarga dalam Pelaksanaan Kebijakan Tatap Muka
Pembelajaran tatap muka akan segera dilaksanakan bagi wilayah PPKM level 1-3 sehingga berdampak bagi perekonomian keluarga di masa pandemi. Terdapat 19,10 juta orang (9,30 persen penduduk usia kerja) yang terdampak Covid-19. Terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (1,62 juta orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (0,65 juta orang), sementara tidak bekerja karena Covid-19 (1,11 juta orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid- 19 (15,72 juta orang).
Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik lonjakan angka pengangguran memberikan dampak yang sangat berpengaruh untuk keluarga Mahasiswa yang terdampak pandemi covid-19 dikarenakan kebijakan pemerintah yaitu pemberlakuan PSBB dan PPKM sehingga membuat para usaha kecil mengalami dampaknya. Dengan kondisi mereka yang sedang bertahan dan beradaptasi dengan pandemi covid-19 yang membuat banyak kehilangan pekerjaan, bangkrutnya sektor usaha, industri gulung tikar yang membuat para pekerja di PHK. Mengharuskan semua kebutuhan hidup mereka diminimalisir secukup mungkin. Sehingga adanya kebijakan kuliah tatap muka membuat para orang tua harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan anaknya seprti kost, biaya kehidupan sehari hari saat merantau dan jauh dari orang tua. Banyak para orang tua yang merasa belum siap untuk memfasilitasi Kebutuhan anaknya dalam Pembelajaran Tatap muka. Namun dibalik pro kontra dari pembelajaran tatap muka terdapat hal posutif dari pembelajaran tatap muka dari segi ekonomi. Memajukan dan meningkatkan perekonomian warga yang bertempat tinggal di sekitar kampus.
Efektivitas Hasil Pembelajaran Tatap Muka
Kebijakan kuliah tatap muka memiliki kerentanan untuk terpapar virus covid-19. Akibat dari bertemunya dan Kegiatan sosialisasi manusia dengan manusia lainnya. Maka perlu adanya tindakan meminimalisir penularan covid -19, melalui :
1. Pembatasan dan pengelompokkan Mahasiswa di dalam satu ruangan kelas.
2. Memberi jarak minimal 1.5 m dengan Orang lain saat berada di kampus agar terhindar dari penularan virus covid-19.
3. Selalu menggunakan handsanitizer setelah menyentuh apappun, dan tidak lupa mencuci tangan dengan sabur agar Virus dapat terbunuh.
4. Menghindari Kerumunan
5. Kewajiban Vaksinasi terhadap tenaga pendidik dan mahasiswa dalam satuan pendidikan
Dari beberapa contoh perilaku yang harus dilakukan dalam pembelajaran tatap muka. Satuan pendidikan pun wajib untuk memberikan sarana dan prasarana mmematuhi protokol kesehatan guna meminimalisir penularan covid-19 pada saat pembelajaran tatap muka :
1. Melakukan disinfeksi sarana prasarana dan lingkungan satuan pendidikan
2. Memastikan kecukupan cairan disinfektan, sabun cuci tangan, air bersih di setiap fasilitas CTPS, dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer)
3. Memastikan ketersediaan masker, dan/atau masker tembus pandang cadangan
4. Memastikan thermogun (pengukur suhu tubuh tembak) berfungsi dengan baik
5. Memastikan informasi tentang pencegahan Covid-19 terpasang di tempat yang telah ditentukan
6. Melakukan pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan: suhu tubuh dan menanyakan adanya gejala umum seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas, sakit kepala, mual/muntah, diare, anosmia (hilangnya kemampuan indra penciuman), atau ageusia (hilangnya kemampuan indra perasa).
Berdasarkan cara minimalisir peredaran covid -19 tersebut dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan nyaman untuk Mahasiswa. Memudahkan Mahasiswa dalam memahami kegiatan pembelajaran praktek dan pengabdian dalam masyarakat serta saling menjaga satu sama lain dari virus covid-19 melalui penerapan protokol kesehatan dengan ketat.
Komentar
Posting Komentar